Rabu, 6 Juni 2018 menjadi hari bersejarah bagi 3 mujahid
kecil saya. Bagaimana tidak, ketiga jagoan saya ini disunat serentak alias
sunat massal keluarga.
Kami datang ke klinik pukul 16.00 sore sesuai janji yang
telah dibuat sehari sebelumnya. Sebelum berangkat, tiga jagoan ini sudah mandi,
rapi, bersih dan wangi. Tunggu punya tunggu, pak dokter belum datang juga.
Namanya anak laki-laki, pastilah tak bisa diam. Lari ke sana, lari ke sini,
alhasil berkeringat lagi. Tanpa sengaja si sulung melihat lemari buku berisi
banyak buku sains untuk anak dan buku-buku agama, seperti serial nabi-nabi dan
sahabat. Dia pun bertanya, "Mi, boleh nggak ini dibaca?" Saya melihat
di dinding ada tulisan "Perpustakaan klinik. Selesai dibaca rapikan
kembali" maka saya sampaikan pada si sulung pesan yang tertera di dinding
tersebut.
Si bungsu yang sudah tak sabar hendak disunat sibuk
bertanya, "Mi, kapan dokternya datang? Lama kali. Abbude udah nggak sabar
mau disunat". Memang, dokternya terlambat 30 menit dari jadwal yang telah
disepakati. Mungkin macet, pikir saya. Sementara adiknya sibuk berlari dan
bertanya mana dokternya, si nomor dua duduk anteng sambil membolak-balik
lembaran buku.
Singkat cerita, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang.
Pak dokter datang dan menyapa anak-anak saya. Para perawat bersemangat sekali
memperkenalkan tiga jagoan ini pada pak dokter.
"Ini Dok yang mau sunat, yang baju putih-putih,"
kata salah satu perawat. Hari itu anak-anak memang saya seragamkan bajunya.
Sebagai sulung, tentu saja si Abang yang pertama merasakan
pengalaman sunat itu. Dia ditemani abinya. Saya menunggu di luar sambil menjaga
dua adiknya yang mengintip-ngintip dari pintu ruang dokter sambil
ketawa-ketawa. Sesekali mereka berlarian di teras klinik. Kadang mereka kembali
melihat buku-buku sambil ketawa-ketawa membayangkan bagaimana disunat. Lima
belas menit berlalu, si sulung masih belum kelar juga disunat. Dua adiknya
sudah tak sabar menunggu sambil sesekali ketawa, tapi juga bergidik ngeri.
Rasanya bercampur jadi satu.
"Siapa habis ini yang mau disunat?" tanya saya.
"Abbude," jawab si bungsu.
"Ish, Abang dulu la," kata si nomor dua.
"Gunting batu kertas aja," kata saya.
Anak-anak mengundi giliran sunat mereka dengan permainan
gunting batu kertas. Sesuai urutan kelahiran, ternyata anak nomor dua yang
menang, maka dialah yang berhak disunat setelah abangnya.
Tak berapa lama setelah anak-anak selesai mengundi giliran,
Ayyasy si sulung keluar dengan senyuman.
"Sakit kali tadi Mi pas disuntik," lapornya.
"Sst, jangan bilang keras-keras, nanti dengar
Azzam." Saya tak ingin adiknya takut mendengar ceritanya.
"Ayok Bang Azzam, giliran kau pulak," Abi
anak-anak menjemput si nomor dua.
"Abbude dulu aja Bi," elaknya.
"Bang Azzam dulu, kan tadi Bang Azzam yang
menang," kata saya. Akhirnya Azzam masuk ke ruangan dengan perasaan
deg-degan. Meski begitu tak ada suara apa-apa yang terdengar dari luar.
Giliran anak ketiga, si bungsu yang sedari tadi tak sabar
mau disunat ini pun tiba. Awalnya dia menolak, tapi setelah dibujuk Abinya
akhirnya dia mau juga naik ke ranjang "operasi".
Kali ini saya masuk ke ruangan itu. Abbude diminta untuk
buang air kecil terlebih dahulu. Kemudian setelah semuanya siap, dokter
menyuntikkan obat bius di alat vitalnya. Si bungsu menangis kesakitan. Abinya
yang berada di samping dokter menenangkannya. Saya tak bisa berada dekat-dekat,
karena dokternya laki-laki. Selain itu ada dua orang perawat juga yang bertugas
mengarahkan senter ke bagian yang disunat dan seorang lagi membantu
mengambilkan alat-alat keperluan sang dokter. Setelah selesai disuntik, dokter
mulai bekerja sambil mengajak si bungsu bercerita. Semua yang ada di ruangan
itu bertanya macam-macam untuk mengalihkan perhatiannya dan alhamdulillah si
bungsu menjawab dengan jawaban-jawaban yang membuat mereka justru merasa gemas
padanya. Bahkan dia sempat bertanya, "Dokter dulu sunat juga?"
"Anaknya ceriwis banget," kata salah satu
perawat.
"Iya, kalau punya anak kritis kayak gini harus pintar
jawabnya," ujar pak dokter.
"Iya, ntar belajar dulu sama google," kata si
Mbak perawat.
Singkat cerita, pukul 17.45, tiga jagoan berusia 9 tahun,
6.5 tahun dan 4.5 tahun saya selesai disunat. Rasa haru memenuhi dada saya dan
suami. Ternyata begini rasanya menyunatkan anak. Ada rasa bangga, bahagia tapi
juga deg-degan karena ini pengalaman pertama kami menyunatkan anak, bahkan tiga
anak sekaligus.
Bagaimanakah reaksi anak-anak ketika pengaruh obat bius sudah
pudar? Jeng jeng jeng...

Tidak ada komentar :
Posting Komentar