Anda baru saja memiliki bayi laki-laki, padahal tiga anak
sebelumnya adalah perempuan. Bingung dengan organ pembeda di kemaluan
kakak-kakaknya? :) Bertanya saja pada sang ayah. Hehehe, belum tentu ia pun
fasih merawat penis bayinya.
Berikut adalah beberapa hal yang sering ditanyakan dan
jawabannya.
1. Menyunat bayi saat baru lahir? Ah tidak! Tidak tega.
Kakek-neneknya pun tidak setuju. Kasihan, masih kecil, kata mereka. Ayahnya
saja disunat saat kelas 4 SD. (Ngomong-ngomong, pada usia berapa Anda
dikhitan?) Nanti saja saat sudah mengerti dan bisa memutuskan sendiri.
Sekaligus bisa diadakan "selametan", kata Ayahnya.
Mana yang lebih baik sebenarnya, menyunat saat masih bayi
kecil atau menunggu besar saja?
Khitan atau sunat alias sirkumsisi tidak hanya sekedar
tindakan medis yang memiliki manfaat pada laki-laki. Tapi ada latar belakang
budaya (siapa yang disunat menjelang SMP, orang Padang, Sunda, atau Jawa? :) ),
agama, dan tentunya indikasi medis. Penelitian yang cukup kuat menunjukkan
sirkumsisi pada usia bayi (sebelum satu tahun) terbukti mengurangi risiko
infeksi saluran kemih (ISK). Saya menjelaskan lebih detil di buku saya
"Orangtua Cermat, Anak Sehat". Ya, salah satu faktor risiko ISK
adalah mengumpulnya bakteri di bawah kulit kulup penis, ditambah faktor lainnya
seperti penggunaan popok sekali pakai, yang masuk melalui uretra ke dalam
kandung kemih. Nah, sirkumsisi atau khitan membuang kulit kulup penis
(foreskin) ini, sehingga risiko ISK menjadi jauh lebih minimal.
Ada kawan yang mengkhitan bayinya sebelum meninggalkan
tempat bersalin saat baru lahir, ada yang mengkhitan pada usia bayinya beberapa
bulan setelah si bayi mengalami ISK dan diobati, dan anak laki-laki saya
sendiri dikhitan saat usianya belum genap 2 bulan.
2. Apakah harus dengan bius umum (tindakan sirkumsisi pada
bayi), atau boleh dengan bius lokal? Ada dokter yang tidak mengijinkan
bius/anestesi lokal ketika mengkhitan bayi, karena alasannya masih kecil.
Hmmm, sebenarnya tidak ada masalah dengan menyunat bayi,
bahkan sejak baru lahir, dengan tindakan bius lokal. Bahkan berdasarkan
pengalaman, tindakan pembiusan umum lebih "ribet", karena harus memeriksakan
laboratorium lengkap sebelum obat-obat anestesi dimasukkan, ada juga yang
meminta pemeriksaan ronsen dada (terjadi paparan radiasi sinar X), dan tentunya
biaya yang lebih mahal.
3. Penis bayi kan cenderung sempit kulupnya, sehingga
tidak bisa ditarik dan terlihat "kepala"-nya (glans penis). Apakah
ini tergolong fimosis? Lalu haruskan rutin ditarik kulupnya saat
membersihkannya sambil mandi atau ketika mencebokinya?
Jawaban yang pertama adalah: kalau begitu semua penis bayi
fimosis dong?? Padahal seiring bertambahnya usia, foreskin akan melebar dan
makin longgar, sehingga bisa ditarik dengan relatif mudah (bagi yang belum
disunat).
Bagaimana membedakannya dengan fimosis?
Bersambung dulu yaa... :)

Tidak ada komentar :
Posting Komentar